Holy War
Zone Chapter 1:Expansion of Vampires
Jakarta,15
Juni 2020...
Malam itu
aku semangat sekali. Kalian tau kenapa ? karena malam ini merupakan respsi
pernikahanku. Aku sudah bersiap dengan baju pengantinku. Aku diantar ke ke
salah satu hotel bintang lima di jakarta. Ya Allah, betapa gugupnya aku.
Padahal sejak dari rumah aku semangat
sekali. Aku mencoba menenangkan diri dengan menarik nafas. Huuu,Bismillah.
Akhirnya
akupun sampai didalam ruang resepsi.Dan akupun melihatnya. Aku melihat wanita yang
sangat aku cintai. Zyanaz Berliana namanya. Aku tidak menyangka sebelumya kalau
dia yang akan menjadi istriku kelak. Berawal dari kebencian antara kami berdua,
Akhirnya dari kebencian itu menumbuhkan benih-benih cinta diantara kami berdua.
Dia tampak cantik dengan gaun pengantin itu. Dia bagaikan salju di musim dingin
bagiku, begitu menenangkan hati.Dan aku sangat berterima kasih kepada Allah
karena telah mengirimkan wanita se-Sholeha seperti dia. Syukron Ya Allah.
Akupun
mendekatinya. Terlihat senyumnya yang indah. Senyum yang selalu berhasil
membuatku tenang. Aku duduk disampingnya. Ya Allah,betapa bahagianya aku malam
ini. Aku juga melihat kebahagiaan dari ibu dan ayahku. Kebahagiaan dari Ibu dan
Ayah mantuku. Kebahagian dari keluargaku. Dan kebahagiaan dari orang-orang di
sekitarku.
Ditengah
kebahagiaan itu tiba-tiba alarm darurat berbunyi. Orang-orang mulai kepanikan ketika
terdengar suara dari pusat pengamanan.”Peringatan!,Kita mendapat serangan.
Diharapkan kepada seluruh orang agar mengung...Ahhkkkkk.”.Suara itu semakin
memperpanik suasana. Orang-orang berdesakan keluar dari ruangan resepsi. Tidak
lama kemudian terjadi gempa bumi, dan gempa itu membuat tangga darurat rusak.
Sehingga jalan keluar satu-satunya adalah dengan menggunakan lift. Kepanikanpun
semakin menjadi-jadi ketika orang-orang berdesakan untuk keluar menggunakan
lift. Akupun menarik tangan Zyanaz dan langsung membawanya pergi ke tempat yang
aman. Aku berfikir bahwa aku harus mengeluarkannya dari ruang resepsi.”Zyanaz
kamu harus keluar dari ruangan ini, aku akan membawamu masuk kedalam lift.
Setelah itu kamu keluar dari tempat ini” kataku padanya.Dia mulai mencucurkan
air mata.Oh, Aku paling tidak bisa melihatnya menangis.”Aku tidak mau pergi
tanpa kamu,Aku...Aku takut Dastan”sambil memelukku.Sebenarnya aku sedih
meninggalkannya sendiri. Tapi demi keselamatanya aku harus menghilangkan rasa
sedihku.Sambil memegang pipinya,Aku menatapnya dengan penuh kasih sayang.”Kamu
jangan takut ya. Kamu juga tidak usah khawatir. Aku sayang sama kamu. Dan karna
aku tidak ingin kamu terluka. Aku janji, aku akan menyusul kami. Sekarang kamu
harus masuk ke lift dan keluar dari sini”. Diapun akhirnya tenang,walaupun aku
tau dia tidak mau pergi tanpa aku.
Akupun
membawanya masuk kedalam lift.”Kamu hati-hati ya”kata Zyanaz sambil memelukku
untuk yang terakhir kalinya.”Kamu juga hati-hati ya. Aku janji akan menyusul
kamu nanti” kataku untuk menenangkannya.Pintu liftpun mulai tertutup, Aku
memandangi wajahnya untuk yang terakhir kalinya. Wajah yang selalu membuatku
bahagia,Wajah yang yang selalu membuatku semangat. Berat rasanya meninggalkan
dia sendirian,tapi ini untuk keselamatanya sendiri.Tinggalah aku sendiri di
ruangan itu.Dan ketika pintu lift mulai tertutup,dan wajahnya mulai hilang dari
pandanganku, aku hanya bisa berdoa untuknya. Liftpun akhirnya mulai bergerak,
dan aku membalikkan tubuhku. Tidak lama kemudian terdengar suara seperti benda
jatuh dari dalam lift. Aku kaget mendengar suara itu. Aku hanya bisa terdiam
kaku, dan air matapun mulai keluar dari kedua mataku. Aku membalikan tubuhku
dan mencoba dengan sekuat tenaga membuka pintu lift,tapi sulit untuk
membukanya. Aku dengan cepat mencari benda agar aku dapat membuka pintu itu.
Ketika aku berhasil membuka pintu, Betapa sedihnya aku ketika melihat itu.
Rasanya hancur hatiku melihat apa yang aku lihat. Dengan mata kepalaku sendiri
aku melihat lift yang membawa Zyanaz jatuh.Aku hanya bisa terduduk pilu melihat
itu. Aku menangis.”Tidaaaaaaaaaak” teriakku sekencang mungkin.
Aku hanya
bisa menangis.Aku tidak percaya kalau Zyanaz telah tiada.Di tengah kesedihanku
terdengar suara sirine polisi dan tembakan. Aku berdiri kemudian aku berjalan
menuju ke arah jendela. Aku penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Ketika aku
melihat apa yang terjadi betapa kagetnya aku melihat itu. Aku melihat makhluk
yang aneh menyerang ke arah polisi. Mereka mengigit para polisi dan orang-orang
di sekitar mereka. Dengan menggukan alat bantu,aku memperjelas untuk melihat
itu. Sungguh mengerikan, Mereka menghisap darah manusia. Dan mereka kebal
terhadap sejata. Melihat itu aku langsung berfikiran”Apakah mereka Vampire ?”.
Tapi jika mereka vampire,Darimana mereka berasal ?. Ah, Tidak ada waktu untuk
memikirkan itu.
Ketika aku
melihat seorang polisi yang dihisap darahnya oleh para vampire,tiba-tiba saja
vampire itu melihat ke arahku. Menyadari keberadaanku,vampire itu langsung
menuju ke arahku. Aku ketakutan,Dan mencoba untuk bersembunyi. Tapi vampir
telah menyadari keberadaanku. Dia mencekikku dan aku tidak bisa bernafas.Aku
mulai putus asa, aku tidak tau harus berbuat apa lagi.Mungkin ini sudah
takdirku,takdir untuk mati .vampire itu memperlihatkan gigi taringnya yang siap
untuk menghisap habis darahku. “Maafkan aku zyanaz aku tidak bisa hidup
untukmu.Tunggu aku,aku akan segera menyusulmu,Seperti janjiku”.
Dalam
keputusasaanku,Tiba-tiba ada yang menusuk vampire itu dari belakang. Vampire
itu memuntahkan darah hitam dan mati seketika.Akupun jatuh dari cekikan vampire
itu dan langsung mengambil nafas.Ketika nafasku mulai teratur aku melihat
seorang yang memakai pakaian yang aneh.”Siapa kau ?”tanyaku.Diapun
melihatku.”Jangan kemana-mana,tetap disini.” jawabnya. Dia langsung keluar
meluncur kebawah dari dalam bangunan. Akupun melihat sayap besarnya.Sebenarnya
Makhluk apa mereka ?.Mereka berjumlah sangat banyak. Dan aku seperti berada di
Zona perang.
Mereka
menyerang para vampire itu.Gerakan mereka sangat cepat dan gesit. Tanpa
ampun,mereka menebas kepala para vampire itu. Para vampire juga tidak tinggal
diam,Mereka juga membalas serangan dari makhluk bersayap itu. Aku melihat ada
beberapa makhluk bersayap itu yang berhasil dijatuhkan oleh para vampire. Para
vampire melompat dan merobek tubuh makhluk bersayap itu. Makhluk bersayap yang
lain,mencoba menyelamatkan orang-orang. Mereka membawa orang-orang itu kedalam
suatu portal. Entah portal apa itu. Tapi yang jelas makhluk bersayap itu pasti
ingin menyelamatkan manusia dari serangan para vampire. Aku juga melihat ada
portal lain yang terbuka,dari dalam portal itu keluar lebih banyak makhluk
bersayap itu.
Salah satu
dari makhluk bersayap itu memakai mahkota. Mungkin saja itu raja mereka. Dia
memakai pakaian kebesarannya dan ia terlihat berwibawa. Ia memegang pedang yang
besar, dan dengan pedang itu ia menebas para vampire itu. Ia juga memberi
komando kepada para pasukannya untuk menyerang para vampire.
Setelah
sekitar 4 jam pertarungan antara para vampire dan makhluk bersayap itu, para
vampire mulai terdesak.perlahan-lahan para vampire itu mundur. Para makhluk
bersayap mengejar para vampire, dan yang tidak berhasil lolos ditebas kepalanya
oleh mereka. Tidak lama kemudian datang salah satu dari makhluk bersayap itu.
Aku masih agak ketakutan ketika dia mendekat. “Tidak usah takut. Aku akan
menyelamatkan kalian” katanya sambil mendekatiku. Aku tidak langsung percaya
dengan apa yang dikatakannya. Dalam rasa ketakutanku itu aku teringat bahwa
Zyanaz berada dalam lift yang jatuh tadi. Aku langsung menuju kearah lift tadi.
Air mataku kembali mengalir. Aku menyesal, kenapa aku membiarkannya masuk
kedalam lift itu. Sekarang aku hanya bisa menangis.
Makhluk
bersayap itu mendekat padaku, kemudian ia melihat kearah lift yang jatuh itu.”
Semoga ini bisa membantu”katanya kepadaku. Ia mengulurkan tangannya kearah lift
itu dan dari tangannya keluar cahaya. Dia mencoba mengangkat lift itu,dan
akhirya liftpun terangkat. Ia mengulurkan tangan yang satu lagi untuk membuka
pintu lift. Pintupun terbuka dan terlihatlah pemandangan para mayat,salah
satunya adalah Zyanaz.”Cepat! aku tidak bisa menahan ini terlalu lama” katanya sambil
menahan lift agar tidak jatuh lagi. Akupun membongkar tumpukan mayat itu. Dan
tidak lama kemudian aku menemukan tubuh Zyanaz yang telah terbujur kaku.”Bantu
aku mengeluarkan mayat-mayat itu” pintanya sambil perlahan-lahan mengeluarkan
mayat-mayat itu dengan kekuatannya. Aku membantunya,tapi aku mendahulukan
mengeluarkan tubuh Zyanaz. Kemudian aku mengeluarkan korban yang lain dari
dalam lift. Setelah selesai mengeluarkan
para korban dari dalam lift, aku langsung menghampiri tubuh orang yang
kucintai. Sedangkan makhluk bersayap itu kembali menjatuhkan lift itu.
Aku memeluk
tubuhnya yang sudah tak bernyawa lagi. Betapa hancurnya hatiku melihat
kondisinya sekarang. Melihat kesedihanku, makhluk bersayap itu mendekatiku.”
Aku turut berduka atas kematian istrimu” kata bela sungkawanya padaku. “ kenapa
? kenapa semua ini harus terjadi” sambil menangis.” Ini sudah takdir dari
Tuhan. Percayalah dia telah tenang di alam sana” hiburnya padaku.” Sekarang
kita bawa mayat mereka untuk dikuburkan. Aku menatapnya untuk yang terakhir
kalinya, sebelum akhirnya makhluk bersayap itu mengangkat semua tubuh mereka
terbang ke tempat Penguburan. Aku juga ikut terbang bersamanya, agar aku
terhibur. Tapi itu tidak sama sekali
menghiburku. Sesampainya di tempat Penguburan, dengan kekuatannya ia menggali
kuburan untuk para korban. Dan satu persatu tubuh para korban dimasukan kedalam
liang lahat, aku melihat tubuh Zyanaz dimasukan kedalam kubur. Sedih rasanya di
tinggal olehnya, tapi aku harus mengikhlaskan kepergiannya. Tanah kuburan
perlahan-lahan tertutup. Ketika semua selesai, Aku memberi tanda berupa kayu di
kubur Zyanaz. Dan untuk yang terakhir kalinya aku memeluknya, walaupun hanya
kayu yang kuberi sebagai tanda untuk kuburnya.
Makhluk
bersayap itu mendekatiku” aku akan ke zona
aman. Jika terus bertahan disini, ada kemungkinanan kita bisa diserang oleh
para Vampire”. Makhluk bersayap itu membalikan tubuhnya dan membuka sebuah
portal. Aku dibawa masuk kedalam portal. Di dalam portal aku melihat cahaya
putih yang sangat terang. Cahaya yang sangat menyilaukan mata. Ketika aku
membuka mataku, aku sungguh takjub dengan apa yang aku lihat. Ini terlihat
seperti surga. Sungguh indah dan membuat hati tenang.”Selamat datang di Dimensi
Difernia”.
To be
Continued...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar